Timnas
kita kalah lagi. Minggu, 14 Juli, giliran Gudang Peluru, Arsenal yang
memberondong gawang kita 7 gol tanpa balas. Sebelumnya kita juga ditekuk
Arab Saudi dan Belanda.
Kalau alasan timnas kalah karena memang kalah kelas, itu bisa diterima. Tapi kalau alasan Indonesia tidak bisa menang karena kalah kelas, itu mungkin sulit diterima. Sebab di saat bersamaan, Thailand All Star bisa mempermalukan tim Inggris lainnya, Manchester United.
Namun saya tidak mau bicara hasil, menang atau kalah. Saya ingin membahas Jacksen F Tiago, pelatih timnas sekaligus Persipura Jayapura.
Saya pribadi menilai ada yang keliru dari pelatih timnas, Jacksen F Tiago. Bukan keliru bahwa ia melatih timnas, atau gaya bermain ala Brasil yang ia umumkan sebelum laga sama sekali tak terlihat, tapi lebih pada cara dia mengatur dan memilih pemain.
Termasuk saat bersama Rahmad Darmawan menangani timnas melawan Arab Saudi, ini yang ketiga kalinya Jacksen mengarsiteki Indonesia. Tapi kok sepertinya Jacksen terlalu ribet dalam memilih pemain. Jacksen sepertinya kesulitan memastikan siapa pemain terbaik Indonesia yang memang pantas masuk skuat Tim Garuda.
Dari tiga kali pemusatan latihan, total sudah 40 pemain yang masuk skuat timnas. Untuk persiapan menghadapi Arsenal, ada 24 pemain yang masuk daftar skuat timnas. Mereka adalah; Kurnia Meiga, Rivki Mokodompit, I Made Wirawan, A.A.Ngurah Wahyu, Zulkifli Syukur, Ricardo Salampessy dan M.Roby. Selain itu ada juga nama Victor Igbonefo, Raphael Maitimo, Toni Sucipto, Ruben Sanadi, Imanuel Wanggai, Yustinus Pae, Hasim Kipuw, Vendri Mofu, Ahmad Jupriyanto, dan Boaz Solossa. Nama lain yakni Rizky Ripora, Ian Louis Kabes, Firdaus Ramadhan, Sergio Van Dijk, Rizky Pellu, Stefano Lilipally, serta Titus Bonay.
Ketika menghadapi Belanda, pemain lain yang masuk skuat yakni Hengky Ardiles, Andry Tani, Hendro Siswanto, Ahmad Bustomi, Greg Nwokolo dan Andik Vermansyah. Sedangkan saat berhadapan Arab Saudi, ada Samsidar, Hamka Hamzah, Abdul Rahman, Supardi, Ponaryo Astaman, M. Taufiq, M. Ridwan, Firman Utina, Ferinando Pahabol, Irfan Bachdim, dan Zulham Zamrun.
Jumlah pemain yang masuk skuat Garuda di bawah kendali Jacksen dipastikan akan bertambah lagi. Sebab untuk laga persahabatan selanjutnya melawan Liverpool, Jacksen sudah mengumumkan akan melakukan beberapa perubahan dalam skuatnya. Empat atau lima nama baru di luar skuat yang dipanggil melawan Arsenal akan dimasukkan. Jika nama baru itu tidak ada dalam daftar 40 pemain sebelumnya, maka total penghuni skuat Garuda di tangan Jacksen bertambah lagi.
Dan saat melawan Chelsea yang juga dijadwalkan ke Indonesia, jika Jacksen masih melakukan perubahan signifikan pada skuat,
maka kita akan menghitung ulang lagi.
Yang menjadi pertanyaan, apakah memang Jacksen tidak tahu atau belum tahu siapa pemain berkualitas timnas di negeri ini. Sehingga harus menyeleksi begitu banyak pemain. Kalau benar demikian, kapan kita punya skuat terbaik?
Sebagai pelatih yang sudah belasan tahun di Indonesia, mestinya Jacksen saat dipilih sebagai pelatih sudah mengantongi nama pemain untuk skuatnya. Kalaupun ada nama baru yang muncul, itu hanya untuk mengisi atau mengganti pemain yang cedera atau sakit.
Jadi laga melawan Belanda, Arsenal, Liverpool hingga Chelsea benar-benar untuk mematangkan timnas. Baik kerjasama ataupun mental bertanding. Ini sebagai persiapan menantang Cina di Pra Piala Asia, Oktober nanti. Bukannya terus menerus menjadikan pertandingan ini sebagai ajang seleksi pemain.
Di negara lain, misalnya saat akan menghadapi kejuaraan, pelatih biasanya langsung mengumumkan skuatnya dua pekan setelah ditunjuk. Harusnya Jacksen juga seperti itu. Setelah mendapat mandat, mestinya sebelum laga melawan Belanda, ia sudah mengumumkan skuat pilihannya untuk lanjutan pra Piala Asia 2015. Sebab saya yakin, Jacksen sejak awal punya gambaran pemain untuk strategi yang akan ia terapkan.
Kalau memang hanya ada dua atau tiga klub saja yang bisa menyumbangkan pemain ke timnas, kenapa tidak. Spanyol dan Jerman kan seperti itu. Tidak perlu dipaksakan mengakomodir pemain dari klub lain atau kompetisi lain kalau hanya akan melemahkan kekuatan timnas. Sebab jika demikian kenyataannya dan Jacksen sekarang sedang ingin memuaskan beberapa pihak sehingga kebingungan memastikan skuat, tentu sangat disayangkan sekali. (*)
Barru, 16 Juli 2013
(Bangun pagi)
Kalau alasan timnas kalah karena memang kalah kelas, itu bisa diterima. Tapi kalau alasan Indonesia tidak bisa menang karena kalah kelas, itu mungkin sulit diterima. Sebab di saat bersamaan, Thailand All Star bisa mempermalukan tim Inggris lainnya, Manchester United.
Namun saya tidak mau bicara hasil, menang atau kalah. Saya ingin membahas Jacksen F Tiago, pelatih timnas sekaligus Persipura Jayapura.
Saya pribadi menilai ada yang keliru dari pelatih timnas, Jacksen F Tiago. Bukan keliru bahwa ia melatih timnas, atau gaya bermain ala Brasil yang ia umumkan sebelum laga sama sekali tak terlihat, tapi lebih pada cara dia mengatur dan memilih pemain.
Termasuk saat bersama Rahmad Darmawan menangani timnas melawan Arab Saudi, ini yang ketiga kalinya Jacksen mengarsiteki Indonesia. Tapi kok sepertinya Jacksen terlalu ribet dalam memilih pemain. Jacksen sepertinya kesulitan memastikan siapa pemain terbaik Indonesia yang memang pantas masuk skuat Tim Garuda.
Dari tiga kali pemusatan latihan, total sudah 40 pemain yang masuk skuat timnas. Untuk persiapan menghadapi Arsenal, ada 24 pemain yang masuk daftar skuat timnas. Mereka adalah; Kurnia Meiga, Rivki Mokodompit, I Made Wirawan, A.A.Ngurah Wahyu, Zulkifli Syukur, Ricardo Salampessy dan M.Roby. Selain itu ada juga nama Victor Igbonefo, Raphael Maitimo, Toni Sucipto, Ruben Sanadi, Imanuel Wanggai, Yustinus Pae, Hasim Kipuw, Vendri Mofu, Ahmad Jupriyanto, dan Boaz Solossa. Nama lain yakni Rizky Ripora, Ian Louis Kabes, Firdaus Ramadhan, Sergio Van Dijk, Rizky Pellu, Stefano Lilipally, serta Titus Bonay.
Ketika menghadapi Belanda, pemain lain yang masuk skuat yakni Hengky Ardiles, Andry Tani, Hendro Siswanto, Ahmad Bustomi, Greg Nwokolo dan Andik Vermansyah. Sedangkan saat berhadapan Arab Saudi, ada Samsidar, Hamka Hamzah, Abdul Rahman, Supardi, Ponaryo Astaman, M. Taufiq, M. Ridwan, Firman Utina, Ferinando Pahabol, Irfan Bachdim, dan Zulham Zamrun.
Jumlah pemain yang masuk skuat Garuda di bawah kendali Jacksen dipastikan akan bertambah lagi. Sebab untuk laga persahabatan selanjutnya melawan Liverpool, Jacksen sudah mengumumkan akan melakukan beberapa perubahan dalam skuatnya. Empat atau lima nama baru di luar skuat yang dipanggil melawan Arsenal akan dimasukkan. Jika nama baru itu tidak ada dalam daftar 40 pemain sebelumnya, maka total penghuni skuat Garuda di tangan Jacksen bertambah lagi.
Dan saat melawan Chelsea yang juga dijadwalkan ke Indonesia, jika Jacksen masih melakukan perubahan signifikan pada skuat,
maka kita akan menghitung ulang lagi.
Yang menjadi pertanyaan, apakah memang Jacksen tidak tahu atau belum tahu siapa pemain berkualitas timnas di negeri ini. Sehingga harus menyeleksi begitu banyak pemain. Kalau benar demikian, kapan kita punya skuat terbaik?
Sebagai pelatih yang sudah belasan tahun di Indonesia, mestinya Jacksen saat dipilih sebagai pelatih sudah mengantongi nama pemain untuk skuatnya. Kalaupun ada nama baru yang muncul, itu hanya untuk mengisi atau mengganti pemain yang cedera atau sakit.
Jadi laga melawan Belanda, Arsenal, Liverpool hingga Chelsea benar-benar untuk mematangkan timnas. Baik kerjasama ataupun mental bertanding. Ini sebagai persiapan menantang Cina di Pra Piala Asia, Oktober nanti. Bukannya terus menerus menjadikan pertandingan ini sebagai ajang seleksi pemain.
Di negara lain, misalnya saat akan menghadapi kejuaraan, pelatih biasanya langsung mengumumkan skuatnya dua pekan setelah ditunjuk. Harusnya Jacksen juga seperti itu. Setelah mendapat mandat, mestinya sebelum laga melawan Belanda, ia sudah mengumumkan skuat pilihannya untuk lanjutan pra Piala Asia 2015. Sebab saya yakin, Jacksen sejak awal punya gambaran pemain untuk strategi yang akan ia terapkan.
Kalau memang hanya ada dua atau tiga klub saja yang bisa menyumbangkan pemain ke timnas, kenapa tidak. Spanyol dan Jerman kan seperti itu. Tidak perlu dipaksakan mengakomodir pemain dari klub lain atau kompetisi lain kalau hanya akan melemahkan kekuatan timnas. Sebab jika demikian kenyataannya dan Jacksen sekarang sedang ingin memuaskan beberapa pihak sehingga kebingungan memastikan skuat, tentu sangat disayangkan sekali. (*)
Barru, 16 Juli 2013
(Bangun pagi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas kunjungan dan kritikan Anda di blog dan tulisan saya