Kamis, 30 Desember 2010

Tuhan, Jangan Biarkan Istriku Ngirim SMS Lagi

Mourinho, kenalkan Aku Amiruddin Aliah.
Karena kau tokoh idolaku dan pelatih favoritku, aku kirim sms ini padamu. Indonesia-ku sedang
kesulitan. Final leg pertama AFF Kami kalah 0-3 dari Malaysia. Suporter Mereka tak sportif, pake
laser. kami mau juara tahun ini Mourinho. kalau kau punya nomor telpon pelatih Indonesia, Alfred
Riedl, tolong telpon dia. seperti yg kau lakukan untuk negaramu di penyisihan piala Eropa, tolong
berbagi ilmulah dengan pelatih kami agar esok bisa menang dan juara di GBK.
Mourinho, aku sedang sedih.........tolonglah
aku bingung setelah sms ini selesai saya ketik di henponku. mau dikirim kemana. jangankan nomor
telepon, ketemu Mourinho saja belum pernah. tapi aku betul-betul ingin berkeluh kesah dan minta
tolong demi timnas Indonesia. lama saya dikepung kebingungan sebelum akhirnya kuputuskan
menulis surat saja kepada TUHAN. Maaf TUHAN, aku mengganggumu lewat surat yang mungkin
dianggap tidak penting oleh sebagian orang.

TUHAN, KAU pasti bisa melihat bagaimana euforia penduduk negeri ini menyambut piala AFF. Dari
baju, topi, hingga wajah, semuanya merah dan putih. KAU tahu kan, itu warna bendera kami.
Sehari setelah laga semifinal yang memastikan Indonesia melaju ke final, ribuan penduduk negeri ini
sudah mengantre untuk selembar tiket TUHAN. KAU pasti tahu artinya.
KAU juga tentu paham kenapa sebagian penduduk kami yang datang ke Gelora Bung Karno
mengantre tiket, mengamuk? Juga saat harus menerobos pagar stadion untuk berebut tiket? Mereka
sedang tidak ingin diganggu untuk bergembira. Mereka sedang sangat senang. Rela datang jauh-
jauh, meninggalkan pekerjaan, keluarga dan segalanya demi mendukung tim kebanggaannya.
Mereka berharap bisa berpesta di GBK Rabu, 29 Desember ini.

Mungkin pemandangan itu asing bagi-MU di negeri kami TUHAN. Sebab, dera siksa dan cobaan
memang lebih banyak KAU timpahkan di negeri ini sejak 2004 lalu. Bencana, tragedi, kecelakaan
seolah tak pernah lelah menyiksa tanah, air, laut, gunung, dan apapun di bumi pertiwi ini. Air mata
sambung menyambung. Duka dan perih hanya berganti tahun saja. Tapi kami memang salah. Begitu
banyak dosa kami buat di tanah yang KAU ciptakan ini. Pengrusakan hutan, pengrusakan habitat
laut, hingga korupsi yang kesemuanya KAU tak senangi, memang terus saja berlanjut di negeri kami
ini.

Tapi bukankah ratusan ribu nyawa yang telah direnggut itu sudah cukup sebagai tumbal? Atau
apakah Gayus dan koruptor lainnya belum cukup buat-MU. Haruskah koruptor itu sepenuhnya
bersih dari negeri ini?

Ah, aku selalu yakin siksaan yang kau timpahkan, ujian yang kau kirimkan, itu bukti sayang-MU. KAU
mengingatkan kami bahwa bumi hari ini warisan untuk anak cucu kami, jadi jangan dirusak. KAU
tahu bahwa uang-uang yang tak halal, termasuk dari korupsi itu tak baik untuk susu anak dan biaya
pendidikan mereka. Makanya kau menunjukka jalan untuk penangkapan mereka yang korup.

Tapi sekali lagi TUHAN, tolong kami. Beri petunjuk ke pelatih, pemain, dan ofisial tim agar timnas
bisa bermain bagus dan kami bisa menang besar. Agar kami bisa juara di GBK. Agar penduduk negeri
ini sejenak bisa tersenyum merayakan kemenangan dan kebahagian.

Please TUHAN, kalah 0-3 itu sulit untuk dibalikkan tanpa restu-MU. KAU tentu bisa melihat
bagaimana status Facebook-ku dicoret-coret dengan nada pesimisme dari teman-temanku yang
memprotes soal nasionalisme yang aku pertanyakan. Jadi tolonglah TUHAN, karena sms ku tidak
mungkin sampai ke Mourinho.
Aku tidak mungkin berharap ke dia untuk membantu negeriku ini.
Kali ini hanya KAU yang bisa membantu kami.

Ayolah TUHAN, kau MAHA tahu. Biarkan penduduk negeri ini sejenak tersenyum. Senyum
kebahagiaan dengan lagu Garuda di Dadaku. Biarkan saudara-saudara saya yang rela mengantre
berhari-hari mendapatkan kepuasan bathin. Cukuplah bencana dan siksa enam tahun ini sebagai
peringatan agar kami sadar.
TUHAN, begitu indah kemenangan jika bisa menjadi nyata. Kami akan memasuki tahun baru dengan
semangat nasionalisme tinggi. Kami akan menghabiskan malam dengan lagu Indonesia Raya dan
Garuda di Dadaku. Bukan dengan lagu menghentak yang bisa mengajak kami bergoyang dan mabuk
semalaman.

TUHAN, sewaktu Indonesia kalah di Stadion Bukit Jalil Malaysia, istriku mengirim sms ke saya.
"Ayah, saya sedih. Indonesia kalah........" begitu isinya. Tolong TUHAN, jangan biarkan istriku
mengirim sms seperti itu lagi. Kasihan dia kalau harus terbebani urusan negara dan rakyat
sementara dia juga harus mengurus anak-anak kami.
Ataukah KAU memang berharap kami kalah agar persepakbolaan kami bisa berevolusi diri, tidak ada
sogok menyogok, kecurangan wasit, pengaturan skor dan juara lagi dan sepakbola kami bisa maju
dan lolos piala dunia yang entah kapan?

Makassar, 28 Desember 2010 (sehari menjelang laga final Piala AFF 2010)

Tertanda

Hambamu






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan kritikan Anda di blog dan tulisan saya